Tanda-Tanda Lailatul Qodar

Tentang tanda malam Lailatul Qadr, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ بَلْجَةٌ لاَ حَارَّةٌ وَ لاَ بَارِدَةٌ (وَلاَسَحَابٌ فِيْهَا وَلاَمَطَرٌ وَلاَرِيْحٌ ) وَ لاَ يُرْمَى فِيْهَا بِنَجْمٍ وَ مِنْ عَلاَمَةِ يَوْمِهَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ لاَ شُعَاعَ لَهَا
“Malam Lailatul Qadr adalah malam yang terang, tidak panas dan tidak dingin (tidak ada gumpalan awan, hujan maupun angin), dan tidak dilepaskan bintang. Sedangkan di antara tanda pada siang harinya adalah terbitnya matahari tanpa ada syu’anya .” (HR. Thabrani)

Syu’a, menurut Imam Nawawi artinya yang terlihat dari sinar matahari ketika baru muncul seperti gunung dan batang yang menghadap kepadamu ketika engkau melihatnya, yakni sinar matahari yang berserakan.
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لاَ حَارَّة ٌوَلاَ بَارِدَةٌ وَتُصْبِحُ شَمْسُ صَبِيْحَتِهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاءُ
“(Malam Lailatul Qadr adalah) malam yang ringan, sedang, tidak panas dan tidak dingin, dimana matahari pada pagi harinya melemah kemerah-merahan.” (HR. Baihaqi)

Jika hadits di atas difahami secara dhohiriyah muncul pertanyaan, karena setiap negara letaknya berbeda otomatis malamnya juga tidak sama, misalkan disaat di Indonesia jam satu malam, di saudi sekitar jam 7 malam waktu sholat isyak dan taraweh, belum lagi berkaitan dengan musim di setiap negara. Misalkan di Eropa malamnya hanya 3-sampai 4 jam lainnya siang saja, ada juga negara yang mengalami musim dingin matahari tidak muncul yang ada malam terus. Atau ketikaa 10 akhir bulan romadhan turn musim hujan, maka mereka tidak merasakan dan mengalami tanda-tanda sebagaimana hadits di atas. Lalu apakah lailatul qodar tidaak turun...?

Lailatul Qodar itu buah dari orang yang menjalankan puasa dengan benar, jika puasa adalah masalah ruhani maka otomatis Lailatul Qodar adalah berkaitan dengn kondisi ruhani orang yang berpuasa.

Semua ciri kehadiran lailatul qadar langit cerah tak berawan, terang benderang, udara terasa sejuk tapi tak membuat menggigil, hangat tapi membuat gerah, tak ada angin, pepohonan bersujud, suasana terasa sangat tenang, perasaan sangat nyaman” hanyalah peng-ibarat-an untuk menggambarkan kondisi spiritual orang yang tercerahkan.

Orang yang tercerahkan adalah orang yang tidak lagi dikendalikan oleh kegelapan bathin. Di dalam hatinya tidak ada lagi rasa iri, dendam, kebencian, dan kemarahan. Yang ada hanyalah pikiran positif terhadap segala sesuatu.

Kondisi tercerahkan di atas dalam tasawuf disebut Jiwa Muthmainnah, Jiwa ini adalah jiwa yang diterangi oleh cahaya hati nurani dan cahaya ilahi, sehingga bersih dari sifat sifat yang tercela dan stabil dalam kesempurnaan. Jiwa ini merupakan starting point untuk kesempurnaan, maka apabila seorang salik telah menginjakkan kakinya pada tingkatan ini berarti ia mulai meninggalkan tingkatan thariqat menuju tingkatan hakikat.

Jiwa Mutmainnah, yaitu jiwa yang sudah mendapat cahaya dari Allah, sehingga sama sekali sudah bersih dari sifat-sifat buruk. Pemilik jiwa ini mulai masuk awal dalam perjalanan menuju Allah, kedudukannya adalah awal dari kesempurnaan , Allah berfirman:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Hai Jiwa Mutmainnah (tenang), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridoi-Nya. (Qs. Al-fajr [89]:27-28)

Jiwa mutmainnah adalah jiwa yang sudah bisa mengendalikan semua sifat dan nafsu-nafsu yang jelek, orang yang mempunyai jiwa akan mendapatkan ketenangan dan kebahagian selalu, karena hatinya telah dipenuhi iman dan cahaya dari Allah. Dalam faham kejawen orang yang sudah mencapai tahap ini, maka akan dapat melihat sejatinya sendiri atau jiwa mutmainnah, yang berwujud seperti dirinya akan tetapi lebih ganteng/cantik dan bercahaya.

Orang yang bisa mencapai tahap Mutmainnah, akan selalu dibimbing oleh hati nuraninya untuk selalu istiqomah menuju Allah, suara hati nurani menjadi sangat jelas, setiap langkah atau perbuatan akan selalu diawasi oleh hati nurani, jika melakukan perbutan dosa maka hati nurani akan cepat-cepat mengingatkan.
Berbahagialah orang yang sudah mencapai tahap jiwa mutmainnah, karena tahap ini adalah dasar atau landasan untuk menuju tahap-tahap berikutnya.

Mereka yang sudah mencapai tahapan jiwa mutmainnah adalah tahapan makrifat kepada Allah dalam tingkatan yang dasar, masih perlu ditingkatkan dan istiqomah lagi agar derajatnya semakin tinggi.

orang yang mengalami pencerahan spritual, ibarat orang yang berada dalam kegelapan menemukan cahaya.

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar

Orang yang mencari (salik) Allah menghabiskan hari-hari gelap malamnya dengan berjaga menantikan datangnya pembukaan, dan bila hal itu terjadi maka bagaikan pecahnya fajar.

Fajr berarti 'subuh, cahaya pertama pagi hari'. Fajara, akar dari fajr, berarti 'merobek, membuka, meletus'. Keadaan hati orang yang berpengetahuan tersembunyi dalam gelapnya malam tapi secara batiniah bersinar. Secara lahiriah berada dalam kegelapan tapi diterangi oleh cahaya batin, secara lahiriah diam tapi secara batiniah aktif dan dinamis di lautan pengetahuan. Sebagian besar kerja rohani dilakukan dari larut malam hingga fajar, saat paling minimal dalam aktivitas fisik atau lahir dan karena itu kemungkinan untuk aktivitas batinnya maksimum. Akar dari segala sesuatu terletak dalam kebalikannya. Akar dari bunga bakung yang paling indah, lembut, putih, dan sangat menarik terletak di dalam lumpur, begitu pula akar dari aktivitas batin yang maksimal terletak pada keberdiaman batin.

disadur dari : https://www.facebook.com/cahaya.gusti



Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :

0 komentar:

Posting Komentar