Belajar Dengan Keyakinan (Belief)

Salah satu penyebab kegagalan dalam proses belajar adalah tidak adanya keyakinan (belief). Meskipun hanya merupakan salah satu penyebab, namun tidak adanya belief sangat berpengaruh dalam kegagalan sebuah proses belajar. Tidak adanya keyakinan dapat meruntuhkan motivasi belajar, sedangkan motivasi merupakan kunci sukses dalam pembelajaran. Keyakinan tidak datang begitu saja, melainkan harus sengaja dibangun, baik dari dalam diri (pengaruh internal) maupun dari lingkungan (pengaruh eksternal).

Sebuah keyakinan dibangun dari konsep diri yang positip. Mari sejenak kita bayangkan masa kanak-kanak. Ketika masih kanak-kanak, atau duduk di Sekolah Dasar, adakalanya seorang anak mengalami kegagalan. Lalu bapak atau ibu guru di sekolahnya mengatakan bahwa dirinya adalah ”anak bodoh”. Sesampainya di rumah, ketika ibunda melihat hasil ulangannya yang kurang memuaskan, langsung berkomentar ”makanya jangan main terus, lihat nih hasil ulanganmu jelek. Mama gak mau punya anak bodoh!”. Perkataan ”bodoh” yang bertubi-tubi diterimanya lama kelamaan tercetak dalam pikirannya. Maka tak heran jika pribadi yang terbentuk adalah pribadi yang berlagak bodoh karena dia telah yakin bahwa dirinya memang bodoh. Inilah keyakinan yang negatip, jika tidak dirubah ke arah keyakinan positip akan dapat meruntuhkan masa depannya.

Sebuah keyakinan bisa dibangun meskipun anak yang telah dicap bodoh tadi telah tumbuh menuju remaja atau dewasa. Membangun keyakinan adalah membangun mental. Mari kita renungkan, mengapa Allah memerintahkan kita Sholat wajib 5 kali sehari, sehingga kita harus membaca Takbir sebanyak 102 kali dalam sehari, Surat Al Fatihah sebanyak 17 kali dalam sehari, dan kalimat Syahadat sebanyak 9 kali dalam sehari. Jika seseorang melakukan sholat denga khusyu’, dengan hati, dengan penuh makna, dan dengan rasa takut kepada Allah, maka pengulangan kalimat takbir (Allahuakbar) yang dibaca 102 kali dalam sehari akan menumbuhkan mentalnya untuk mencintai Allah, merasa kecil dan takut di hadapanNya. Surat Al Fatihah yang dibaca 17 kali juga membangun mental untuk meyakini kekuasaan Allah, menggantungkan harapan, memohon petunjuk, perlindungan dan pertolongan hanya kepada Allah semata. Kalimat syahadat yang dibaca 9 kali dalam sehari, membangun mental untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya komitmen, hanya Allah saja yang ada di dalam kalbunya. Pembangunan mental seperti ini dapat sukses jika sholat dilakukan dengan khusyu”. Inilah repetition power, kekuatan pengulangan. Bahwa sesuatu yang diucapkan berulang-ulang dengan sungguh-sungguh, sehingga merasuk ke dalam hati, maka akan dapat merubah mentalnya. Namun jika sholat dilakukan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja, hanya sebatas ritual tanpa hati, maka sholatnya tidak berbekas kepada perilakunya dan tidak merubah mentalnya.

Repetition power telah diajarkan langsung oleh Allah Yang Maha Cerdas (Al Rosyid) untuk membangun mental, merubah mental ke arah yang positip. Selain dalam sholat, repetitif power juga dapat diraih melalui kalimat-kalimat zikir. Kalimat tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), tahlil (Laa illaha illallah) dan takbir (Allahuakbar) kita ucapkan berulang-ulang dalam berzikir, puluhan kali bahkan ratusan kali. Meskipun kalimat zikir itu kita ucapkan ratusan kali, namun jika hanya di bibir saja tanpa penghayatan di hati, maka tidak akan muncul dampak dalam pembangunan mental. Sebaliknya jika ucapan zikir itu hanya puluhan kali namun diucapkan dengan sepenuh hati, dengan khusyu’, maka zikir itu akan merubah mental berupa timbulnya rasa takut, ta’zim, syukur dan pengagungan terhadap Allah SWT.

Itulah kekuatan pengulangan (repetition power) yang mampu membangun dan merubah mental ke arah positip. Bagaimana dengan usaha untuk membangun sebuah keyakinan (belief)? Maka dapat melakukan repetition power terhadap kalimat yang membangkitkan semangat untuk belajar. Misalnya saja kalimat ”aku pintar”. Ucapkanlah dengan keras namun tetap dalam penghayatan hati, misalnya 100 kali, maka lama kelamaan akan merubah mental yang tadinya bodoh menjadi pintar. Jika ucapan ”aku pintar” diulang 100 kali setiap pagi ketika hendak berangkat sekolah atau kuliah, dengan penuh perasaan, maka hal ini dapat merubah konsep diri yang semula adalah ”aku bodoh” menjadi ”aku pintar”. Perubahan konsep diri ke arah yang positip akan menimbulkan keyakinan (belief) yang sangat bermanfaat dalam menumbuhkan motivasi dan memberikan energi (sebut saja energi quantum) untuk meraih sukses dalam belajar.

Belief tumbuh dari prasangka positip, pikiran positip, dan yang lebih power full adalah perasaan positip. Dalam buku ”The Secret” yang ditulis oleh Rhonda Byrne, pikiran positip akan menarik hal-hal positip di alam semesta sesuai dengan ”hukum tarik menarik” (The Law of Attraction). Rahasia besar adalah adanya hukum tarik menarik di level alam quantum yang dapat merubah hidup seseorang melalui pikiran dan perasaannya. Setiap kita berpikir, atau berperasaan, maka pikiran dan perasaan itu akan memancarkan gelombang dengan frekuensi tertentu ke alam quantum di semesta raya. Menurut hukum tarik menarik, pikiran atau perasaan positip akan menarik hal-hal positip yang berada dalam frekuaensi yang sama dengan pikiran dan perasaan kita. Frekuensi positip atau negatip yang akan ditarik? Tergantung pada apa yang kita pikirkan dan frekuensi itulah yang akan datang di dalam kehidupan kita.

Kita seperti sebuah pemancar, yang setiap saat memancarkan gelombang dengan frekuensi tertentu sesuai dengan pikiran dan perasaan kita. Perasaan syukur dan ikhlas merupakan pemancar terkuat untuk menarik frekuensi positip seperti ketenangan, ketentraman, kesehatan, kecukupan atau bahkan kekayaan. Sedangkan perasaan negatip seperti dendam, iri, dengki dan selalu mengeluh merupakan pemancar yang menarik frekuensi negatip seperti datangnya penyakit, hidup susah, dan tidak bahagia. Jadi, masih menurut buku The Secret, kita akan dapat merubah nasib hidup kita dengan cara merubah pola pikir dan perasaan kita. Jika perasaan putus asa dirubah dengan keyakinan, yang selalu kita pancarkan ke alam quantum setiap saat, maka datanglah rasa optimis dan kesuksesanpun menjadi kenyataan.

Hukum tarik menarik di alam semesta ternyata sesuai dengan ilmu matematika. Coba kita hitung : (-1) + (-1) = -2 . (-2) + (-2) = -4. (-3) + (-3) = -6. Dan seterusnya, semakin besar angka minus bila dijumlahkan dengan angka minus menjadi semakin minus. Artinya, jika kita memikirkan hal negatip sekali dalam sehari, 7 kali dalam seminggu, maka dalam waktu seminggu kita mengumpulkan 7 kali keburukan. Maka 7 keburukan itu akan menarik 7 keburukan di alam quantum dan akan kembali kepada kita sebagai 7 macam keburukan yang menimpa kita. Itu kalau dalam sehari kita hanya sekali saja berpikir negatip. Bagaimana kenyataan selama ini? Jangan-jangan lebih dari sekali bahkan seringkali kita berpikir negatip dalam sehari? Maka tinggal menghitung saja berapa jumlah keburukan yang kita tarik dari alam semesta.

Berdasarkan fakta seperti itu maka sebaiknyalah kita mulai menghapus saja pola pikir yang negatip, lalu kita ganti dengan operating system yang baru. Setelah semua pikiran dan perasaan negatip kita delete, lalu kita ganti dengan pikiran dan perasaan positip seperti optimis, semangat, syukur, dan ikhlas, maka kita mengumpulkan dan memancarkan energi positip ke alam quantum, yang akan menarik kebaikan-kebaikan pada diri kita. Menurut perhitungan matematika, jika kita memancarkan 3 pikiran positip dalam sehari, maka kita akan menerima 21 kebaikan dalam seminggu. Namun kenyataannya jauh lebih banyak kebaikan yang datang kepada kita bukan? Ya, kebaikan yang kita terima bahkan jauh lebih banyak dari pikiran dan perasaan positip yang kita pancarkan ke semesta.

Sesungguhnya apa yang dikupas dalam buku The Secret, adalah rahasia Al Qur’an yang telah tertulis 1400 tahun yang lalu. Gaya tarik menarik di alam quantum adalah firman Allah. Dalam QS.Ar Rahman: 60, Allah berfirman ”Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula”. Allah SWT juga berfirman dalam QS Al An’aam: 160, Allah berfirman ”setiap amal kebaikan akan dibalas 10 kali lipat dari amalnya”. Dalam QS. Al Mu’min: 40, Allah berfirman ”Barangsiapa melakukan kejahatan, maka dia tidak dibalas melainkan sebanding dengan kejahatannya itu”. Lalu dalam QS. Anisa: 79, Allah berfirman ”Semua kebaikan datangnya dari sisi Allah dan semua keburukan datangnya dari dirimu sendiri.”. Dan dalam hadist Qudsi : ”Sesungguhnya Aku akan mengikuti persangkaan hambaKu dan Aku akan senantiasa menyertainya jika berdoa kepadaKu ”.

Bukankah ayat-ayat Allah di atas adalah rahasia yang mengungkapkan hukum tarik menarik (The law of attraction)? Bahwa kebaikan akan menarik kebaikan dan keburukan akan menarik keburukan? Itulah rahasia quantum, rahasia yang telah tertulis dalam kitab suci Al Qur’an 1400 tahu lalu.

Siapakah penguasa alam semesta termasuk alam quantum di dalamnya? Dialah Allah, Yang Maha Menguasai dan Maha Mengatur. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan berupa kebaikan pula, bahkan setiap satu kebaikan akan dibalas dengan 10 kalinya. Sedangkan setiap satu kejahatan dibalas sebanding dengan kejahatannya itu. Itulah sebabnya Allah berfirman bahwa semua kebaikan datangnya dari sisi Allah dan semua keburukan datangnya dari dirimu sendiri. Demikian pula dengan prasangka, jika kita berprasangka positip kepada Allah, mudah saja bagi Allah untuk mengirimkan hal-hal yang kita pikirkan dan kita rasakan itu menjadi kenyataan. Dan prasangka negatip akan mengirimkan hal-hal buruk kepada kita. Hukum tarik menarik di alam quantum ini tentu saja tidak lepas dari campur tangan penguasa alam semesta, Allah Rabbal alamin.

Dalam buku The Secret dijelaskan bahwa apa yang kita inginkan dapat kita raih dengan tiga langkah : Meminta, percaya, dan menerima. Lalu hukum tarik menarik di alam quantum yang akan merealisasikannya. Bukankah hal itu juga telah dijelaskan dalam Al Qur’an 1400 tahun yang lalu? Inilah tiga langkah yang dituntun langsung dari Allah Yang Maha Mengabulkan Doa (Al Mujib). Langkah pertama adalah berdoa (meminta). Dalam QS. Al Mukmin: 60 Allah berfirman ” Berdoalah kepadaKu niscaya Aku perkenankan bagimu ”. Selain itu di dalam QS.Al Baqarah:186, Allah juga berfirman ”Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Langkah kedua adalah yakin, bahwa Allah akan mengabulkan doa kita sesuai dengan janjiNya. Untuk itu syaratnya adalah berdoa dengan khusyu’. Inipun atas tuntunan Rasulullah SAW dalam sabdanya ”Jika engkau berdoa, berdoalah dengan khusyu”, dan yakinlah pada pengabulanNya”.

Betapa seringnya kita berdoa, tapi tidak meyakininya. Seringkali kita lebih percaya pada janji seseorang dibandingkan dengan janji Allah. Padahal segala sesuatu sangatlah mudah bagi Allah, sebagaimana firmanNya dalam QS. Yasiin: ”Apabila Ia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ’Jadilah’, maka jadilah ia”. Jika kita mengaku beriman kepada Allah, kenapa tidak yakin terhadap janjiNya?

Langkah ketiga adalah menerima. Apa yang dikabulkan dari doa kita maka harus kita terima dengan perasaan syukur. Allah Maha Tahu akan kebutuhan kita, Dia Maha teliti dan mengukur dengan pasti dalam bentuk apa dan seberapa doa yang dikabulkan untuk kita. Yang jelas Allah sudah mengatur bahwa yang dikabulkan itu adalah yang paling pas buat kita. Oleh karena itu kita harus menerimanya dengan rasa syukur, Lalu perasaan syukur inipun akan memancar lagi ke alam semesta dan menarik frekunsi positip, demikian seterusnya. Maka perasaan syukur dan ikhlas adalah kunci utama dalam menarik frekuensi positip secara terus menerus dari alam semesta untuk kita. Hal inipun telah dijanjikan oleh Allah dalam QS.Ibrahim:7, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Maka perasaan syukur dan ikhlas merupakan frekuensi tertinggi dalam menarik frekuensi positip dari alam quantum untuk mewujudkan kebaikan dan kebahagiaan.

Belajar meraih ”belief” dari Ibrahim dan Siti Hajar.

Ketika Nabi Ismail masih bayi, Allah memerintahkan agar Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan bayinya Ismail ke Mekkah. Baru saja sampai di Mekkah, Allah segera memerintahkan agar Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, untuk meneruskan misi dakwahnya di negeri Kanaan. Betapa berat Nabi Ibrahim mendengar perintah itu, bagaimana mungkin bayi yang sekian lama didambakannya kini harus ditinggalkannya. Apalagi tempat itu adalah padang pasir yang tandus, tak ada sumber air dan tanaman, tak ada buah-buahan, sehingga tak ada penghuni seorangpun di sana. Nabi Ibrahim khawatir dan ragu, tak tega rasanya meninggalkan Siti Hajar dan bayinya di tempat seperti ini.

Nabi Ibrahim adalah seorang hamba Allah yang sangat taat, tunduk dan patuh terhadap segala perintah Allah. Apapun resikonya, Nabi Ibrahim tidak pernah menentang perintah Allah. Akhirnya beliau mengambil keputusan yang bulat untuk tetap mentaati perintah Allah, meskipun harus meninggalkan istri dan bayi yang hampir seratus tahun didambakannya. Kenapa? Karena dia yakin akan jaminan pertolongan Tuhannya. Ketika Nabi Ibrahim berjalan akan meninggalkan tempat itu, istrinya Hajar mengikutinya dan bertanya :”Wahai Ibrahim, kamu akan pergi kemana? Apakah engkau akan meninggalkan kami di tempat seperti ini, yang tidak ada manusia dan tidak ada apa-apa?” Ibrahim hanya diam tak mampu menjawab, kepalanya tertunduk. Hajar bertanya lagi berulang-ulang dengan pertanyaan yang sama, namun Ibrahim tetap tak menjawab. Akhirnya Hajar bertanya :”Apakah ini perintah Allah?”. Akhirnya Nabi Ibrahim menjawab :”Ya, ini perintah Allah”. Dengan sabar dan penuh tawakkal Hajar berkata :”Kalau begitu pergilah, aku yakin Allah tidak akan menterlantarkan kami”

Nabi Ibrahim berjalan meninggalkan Hajar dan Ismail tanpa menoleh, karena khawatir jika menoleh hingga melihat bayinya, akan dapat menggoyahkan kebulatan tekadnya. Setelah melewati bukit sehingga jika menoleh tak lagi melihat Hajar dan Ismail, Nabi Ibrahim berhenti, lalu menghadap ke arah Baitullah sambil mengangkat kedua tangannya dan berdo’a, dengan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkannya:

“Ya Tuhan kami, aku meninggalkan sebagian keturunanku di lembah tak bertanaman di dekat RumahMu yang suci. Ya Allah tolonglah agar mereka mendirikan sholat. Maka jadikanlah hati manusia suka kepada mereka dan berikanlah buah-buahan kapada mereka agar mereka bersyukur” (QS. Ibrahim : 37)

Tinggalah Siti Hajar bersama bayinya di tempat yang gersang itu. Ketika perbekalan telah habis, Ismail yang masih bayi menangis kehausan dan kelaparan, karena air susu Hajar telah kering. Padahal Siti Hajar tak bisa menyusui anaknya tanpa air minum dan makanan. Siti Hajar mencari air berjalan bolak balik antara bukit Shafa dan bukit Marwah. Di tengah pencariannya itu dilihatnya seperti genangan air yang menghampar di kejauhan. Maka dengan penuh semangat dia berlari-lari ke arah yang disangkanya genangan air itu. Lalu ketika ternyata yang dilihatnya hanyalah fatamorgana, tak ada setetespun air di sana, Siti Hajar tidak pernah berhenti. Dia terus berlari bolak balik mencari air demi bayinya yang kehausan. Apalagi didengarnya bayi mungilnya itu menangis, Siti Hajar semakin keras berjuang untuk mendapatkan air. Setiap sampai di puncak bukit Shafa maupun di puncak bukit Marwah, ia memandang ke segala arah sambil memanggil “Tolong, apakah disana ada orang?”. Namun tak pernah ada jawaban. Tempat itu begitu panas, gersang dan tandus hingga tak ada orang yang mau tinggal di sana. Namun Hajar tetap berusaha, setiap kali gagal ia tak pernah putus asa, terus berjuang dan berjuang lagi, berlari-lari dengan tegar tanpa henti, tanpa kenal lelah, dengan satu harapan kepada Allah Ar Rahman Ar Rahim agar menyelamatkan anaknya.

Itulah Siti Hajar sang ibu teladan, dengan optimis dan tawakkal ia tetap berbaik sangka kepada Allah, yakin akan pertolongan TuhanNya. Setelah 7 kali berlari bolak-balik sambil berdoa, akhirnya ia menemukan air yang sekarang dikenal dengan sumur Zam-Zam, atas pertolongan Allah Yang Maha Pemberi (Al Barr). Itulah bukti kasih sayang Allah terhadap hambaNya yang takwa, sabar, yakin akan pertolongan Tuhannya, pantang putus asa, dan bertawakkal (pasrah kepada Allah). Sumur zam-zam yang tak pernah kering itu, meskipun berjuta-juta orang mengambilnya setiap tahun, merupakan tanda kekuasaan Allah Al Malik di Baitullah. Keberkahan air zam-zam dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya :

“Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam-zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan obat segala penyakit” (HR. Ath Thabarani)

Ritual sa’i juga mengandung pesan bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan, apabila kegagalan itu dijadikan cambuk untuk meneruskan perjuangan dengan lebih keras lagi. Kegagalan juga dapat menghancurkan kesombongan, dan dengan hancurnya kesombongan itu akan tumbuh rasa rendah hati dan lebih cerdas mengendalikan emosi. Nilai ridha Allah dalam Sa’i adalah ketika berjalan dan berlari, saat berusaha dan berjuang sebagai wujud ibadah kepada Allah. Orang yang tawakkal adalah orang yang berserah diri kepada Allah setelah berjuang dan berdo’a. Tawakkal bukan berarti hanya pasrah tanpa perjuangan. Siti Hajar tidak duduk termangu, tidak berdiam diri sambil berputus asa. Ketika merasa usahanya sia-sia, Siti Hajar tetap berbaik sangka kepada Allah, dengan keyakinan akan pertolongan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan ia bersyukur ketika Allah memberikan air zam-zam sebagai simbol berkah rejeki dan keselamatan.

Siti Hajar adalah teladan untuk tetap teguh dalam berjuang berlandaskan ketakwaan, kesabaran, keyakinan (bilief), optimisme dan tawakkal. Teladan inilah yang dabadikan oleh Allah dalam ritual Sa’i, sebagai pelatihan manusia untuk istiqomah, yaitu perjuangan yang gigih dengan mengharap Ridha Allah. Perjuangan yang gigih dengan landasan seperti yang dilakukan Siti Hajar, insyaAllah akan memberikan hasil, meskipun kadang-kadang Allah memberikan hasilnya dari arah yang tidak disangka-sangka. Lihatlah Siti Hajar yang mendapatkan air bukannya di daerah anatara bukit Shafa dan Marwah, di mana dia berjalan dan berlari mondar-mandir, melainkan di sebuah tempat antara Ka’bah dan bukit Shafa yaitu di sumur zam-zam.

Jiwa sa’i sesungguhnya tidak hanya dilakukan di antara bukit Shafa dan Marwah, tapi dapat dilakukan di mana saja, termasuk di tanah air. Di mana saja, setiap perjuangan adalah sa’i. Setiap usaha dan kerja keras yang dilakukan dengan mengharap rahmat dan ridha Allah adalah sa’i. Keluarnya air zam-zam sebagai hasil perjuangan Siti Hajar justru bukan di tempat sa’i antara bukit Shafa dan Marwah. Demikian pula kadang-kadang hasil perjuangan datang bukan dari arah yang kita perjuangkan, melainkan dari arah yang tak disangka dan tak terduga. Intinya, kewajiban manusia adalah berjuang, berusaha dan bekerja dengan cara-cara yang halal, berlandaskan pada ketakwaan, kesabaran, keyakinan (bilief), optimisme dan tawakkal, sedangkan hasilnya seberapa dan dari mana adalah urusan Allah Yang Maha Kaya, Maha Memberi Karunia.

Itulah keyakinan (belief) yang harus kita teladani dalam menempuh perjuangan, di antaranya adalah dalam proses pembelajaran. Belajar tanpa keyakinan (belief) dapat terjerumus ke dalam perasaan putus asa. Sedangkan putus asa adalah hal yang dilarang, karena putus asa berarti tidak percaya akan rahmat Allah. Sebaliknya, belajar dengan keyakinan (belief) akan menimbulkan semangat dan optimis. Dalam proses pembelajaran, jika seorang individu telah mengetahui bagaimana cara belajar yang benar, cara belajar yang effektif dan menyenangkan, tidak membosankan, maka keyakinan akan tumbuh dan melejitkan suksesnya belajar. Seringkali seseorang yang berpotensi sangat cerdas justru mengalami kegagalan dalam studinya karena tidak tahu cara belajar yang benar, dan dia belajar tanpa keyakinan. Otak dan hatinya selalu diliputi pikiran dan perasaan negatip dan buruk sangka, hal ini akan menguras energi tubuhnya.

Belajar Dengan Fokus.

Sebagaimana telah dijelaskan pada awal dari bab ini, bahwa kondisi fokus adalah kondisi di mana kita mengalami rasa rileks yang dalam dan penuh konsentrasi ke dalam diri. Pada saat berada dalam kondisi fokus maka kita telah menyingkirkan segala pengaruh yang mengganggu perhatian kita pada suatu subyek tertentu. Ukuran kesuksesan dalam mencapai fokus adalah sejauh mana kita dapat menghilangkan pengaruh yang mengganggu sehingga perhatian kita benar-benar hanya tertuju kepada suatu hal yang sedang kita pikirkan atau kita kerjakan.

Kunci sukses dalam belajar adalah memahami materi yang dipelajari. Apapun materi yang dipelajari, tahap awal dalam proses pembelajaran adalah memahami. Dalam belajar matematika, sebelum melakukan perhitungan maka terlebih dahulu harus memahami persoalan dan bagaimana cara menghitungnya. Demikian pula dalam mempelajari ilmu Fisika, Kimia, dan ilmu teknik yang banyak melibatkan perhitungan. Bagaimanapun sebelum mengingat rumus dan menghitung, langkah pertama adalah memahami. Begitu pula materi pelajaran/kuliah yang tidak banyak melibatkan perhitungan, melainkan banyak melibatkan hafalan (pengingatan), maka langkah pertama juga memahami. Intinya, apapun yang dipelajari maka langkah pertama untuk menuju kesuksesan belajar adalah memahami. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menuntun kita untuk berdoa sebelum belajar, yang artinya ”ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu, dan berilah kepadaku kefahaman”.

Bagaimana kunci sukses agar dapat memahami materi yang dipelajari? Kuncinya adalah ”fokus”. Ketika seorang guru / ustad atau dosen sedang menjelaskan materi pelajaran /kuliah, maka kehadiran santri/siswa/mahasiswa marupakan syarat yang hampir mutlak terhadap kesuksesan proses pembelajaran. Kenapa demikian? Karena apabila siswa/mahasiswa di dalam ruang kelas itu dapat berada dalam kondisi fokus, maka mereka akan memperoleh pemahaman pada saat itu juga.

Hasil penelitian tentang otak manusia menyebutkan bahwa dalam kondisi fokus maka otak berfungsi seimbang, sehingga terjadi harmonisasi antara belahan otak kiri dan otak kanan. Pada kondisi ini tercapailah apa yang disebut kondisi super learning. Kondisi inilah yang dibutuhkan agar terjadi pemahaman terhadap materi bahan pelajaran/kuliah yang sedang disajikan oleh guru/dosen. Jika pemahaman itu langsung dituangkan ke dalam bentuk catatan, maka otak mereka telah merekam lebih dari 50% dari kandungan materi yang harus diingat. Selebihnya adalah pengulangan kembali (rehearsal), dan dengan teknik yang tepat maka materi pelajaran/kuliah itu disimpan dalam memori jangka panjang agar mudah diingat kembali. Teknik untuk memasukkan materi pelajaran/kuliah ke dalam memori otak jangka panjang akan dipelajari secara khusus pada bab selanjutnya dalam buku ini. Namun sekali lagi, kesuksesan seseorang dalam belajar sangat tergantung pada sejauh mana dia bisa fokus.

Masalahnya adalah seringkali sulit untuk mencapai kondisi fokus. Pada saat guru/dosen mengajar, menjelaskan tentang materi tertentu, pikiran kita justru melayang-layang ke berbagai penjuru, memikirkan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan materi yang sedang dipelajari. Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan tentang pengertian quantum di awal bab ini, bahwa kondisi fokus akan tercapai ketika kita berada dalam kondisi ikhlas. Perasaan ikhlas merupakan puncak dari akumulasi perasaan positip seperti syukur, sabar, tenang, tentram, damai dan bahagia. Perasaan positip ini menyebabkan vibrasi sel-sel otak berada pada frekuensi tinggi sehingga otak kita penuh tenaga. Itulah sebabnya pada saat perasaan berada pada kondisi ikhlas, fokus, maka sangat memungkinkan bagi kita untuk memahami suatu materi pelajaran/kuliah dengan mudah.

Perasaan ikhlas tidak mungkin dicapai ketika kita sedang diselimuti perasaan negatip seperti suka mengeluh, cemas, gelisah, marah, takut, dan mementingkan hawa nafsu. Perasaan negatip ini menyebabkan vibrasi sel-sel otak berada pada frekuensi rendah sehingga otak kita tak punya tenaga. Kenapa? Karena tenaganya habis untuk memikirkan hal-hal yang negatip tadi. Dengan kondisi otak yang tak bertenaga tentu saja akan sulit untuk mencapai kondisi fokus dan materi pelajaran/kuliah tidak dapat dipahami dengan baik.

Sesungguhnya Allah telah memberikan pelatihan/training setiap hari agar kita mudah mencapai kondisi fokus, yatu melalui sholat khusyu’. Dalam sholat wajib 5 kali sehari, minimal kita berlatih 5 kali khusyu’. Namun sejujurnya kita seringkali merasa sulit mencapai khusyu’ dalam sholat. Meskipun pada awal sholat sudah berniat untuk khusyu’, namun ditengah-tengah sholat pikiran kita melanglang buana ke mana-mana. Ketika bibir komat-kamit membaca bacaan sholat, dengan gerakan sholat yang sesuai syariat, bersamaan dengan itu pikiran kita melayang-layang memikirkan hal-hal yang lain, dan tahu-tahu sholat sudah selesai. Kita melaksanakan sholat seperti mimpi, kita hanya membaca dan bergerak tanpa hati. Barangkali itulah sebabnya Allah Al ’Aliim Yang Maha Mengetahui tidak menjadikan khusyu’ sebagai rukun sholat, karena Dia maha mengetahui kelemahan hambaNya. Namun tentu saja tingkat kekhusyukan dalam sholat akan menentukan besarnya nilai pahala yang akan kita raih. Dalam catatan Malaikat pasti berbeda nilai pahala sholat yang dilakukan dengan 20% khusyu’ dan 80% khusyu’. Kita dapat memperkirakan diri kita masing-masing, seberapa khusyu’ sholat kita?

Manusia yang cerdas sesungguhnya adalah manusia yang selalu ingin belajar. Dan manusia yang baik sesungguhnya adalah manusia yang selalu ingin meningkatkan perbuatan baiknya. Maka sudah seharusnya kita selalu belajar untuk meningkatkan kekhusyukan dalam sholat, dan jika khusyu’ telah menjadi kebiasaan maka kita akan lebih mudah mencapai kondisi fokus. Dalam berdoa maupun dalam belajar, kita sangat membutuhkan kondisi fokus dan tidak terlalu dulit mencapainya jika sudah terbiasa dengan kondisi khusyu’ (fokus) dalam sholat. Bukankah kebiasaan khusyu’ juga merupakan ”repetition power” yang dapat merubah mental seseorang?

Latihan fokus merupakan salah satu bagian dalam program training QPL, karena kami menyadari betapa pentingnya kondisi fokus (khusyu’/konsentrasi) dalam sholat, dalam berdoa, dan dalam belajar.




Silahkan Tinggalkan Komentar Anda :

0 komentar:

Posting Komentar